New Media dan perkembangan budaya manusia

28 11 2010

Tahun 1981, Asrul Sani pernah menandaskan sebuah fenomena yang pada saat itu baru, yakni video. Ia mengatakan, “Sekarang ini kita berhadapan dengan suatu fenomena yang sumber dan pintu masuknya tidak lagi ketahuan, tetapi langsung masuk ke tengah-tengah keluarga dan rumah tangga.” Hafiz mengulas perkembangan fenomena ini dalam ranah sosial seni rupa kontemporer Indonesia.

Pada Desember 1981, Departemen Penerangan Republik Indonesia dan Dewan Film Nasional mengadakan seminar “Pengelolaan Teknologi Video untuk Pembangunan”. Seminar yang melibatkan praktisi seni (sastra, film, teater, dan seni rupa), teknokrat, militer, dan birokrat ini merupakan satu-satunya seminar tentang penggunaan medium video yang pernah diadakan. Salah satu pembicara dalam acara itu adalah Asrul Sani, yang memberikan gambaran bagaimana fenomena medium video telah menjadi bahaya laten di tengah masyarakat kita. Dalam makalahnya, Asrul menulis:
“Apakah masuknya secara sah atau tidak sah, tapi pada pokoknya benda itu sudah ada di tengah-tengah kita dan begitu ia berada di tengah kita, ia dapat diperbanyak secara sah atau tidak sah. Dalam hal ini, video merupakan satu alat penetrasi kebudayaan yang tidak bisa dihadapi hanya dengan peraturan tetapi harus dihadapi dengan daya tahan si pengguna video tersebut.”
Dari beberapa makalah yang sempat saya baca dari seminar itu, dapat dilihat bahwa medium video telah memberi ketegangan tersendiri pada masa itu. Salah satunya adalah kekhawatiran industri film yang menganggap video adalah acaman yang sistematis menuju kematian industri film di Indonesia. Namun yang menarik adalah respons pemerintahan Orde Baru terhadap perkembangan medium ini. Ketika itu, pemerintah merasa perlu membuat sebuah tata laksana tentang penggunaan video di masyarakat, karena kekhawatiran terhadap kemungkinan subversivitas media ini.
Medium Video di Indonesia
Membaca perkembangan medium di Indonesia, perlu digarisbawahi bahwa peran pemerintah sangat penting dalam membawa teknologi ini masuk ke Nusantara. Peran Presiden Soekarno tidaklah bisa kita abaikan, meski keputusan untuk mendirikan stasiun televisi di Indonesia merupakan bagian dari proyek mercu suarnya. Televisi Republik Indonesia (TVRI) hadir atas keinginan Soekarno untuk menghadapi ASEAN Games pada 1962. Ia tidak ingin bangsa Indonesia dilihat sebagai bangsa yang ketinggalan zaman. Dalam riset yang dilakukan Forum Lenteng, Jakarta, tentang fenomena sejarah perkembangan video di Indonesia (VIDEOBASE), tergambar bahwa sebenarnya kehadiran medium video melalui media televisi, yaitu TVRI, pada 1962 tidaklah jauh tertinggal dari yang terjadi di dunia Barat. Indonesia perlu bangga karena negara ini merupakan salah satu yang pertama menggunakan media televisi di Asia.
Kehadiran medium video merupakan keniscayaan teknologi, ekonomi, dan politik yang tidak dapat ditolak bangsa ini. Temuan yang didapat Forum Lenteng menunjukkan, teknologi alat rekam video dijual bebas sejak 1971, yang diikuti dengan penjualan alat pemutar video pada 1974 (lihat iklan pemutar video AKAI di koran Sinar Harapan, 5 Januari 1974). Sejak itu, video mulai masuk ke rumah-rumah kelas tertentu. Dominasi TVRI sebagai satu-satunya tontonan di rumah mulai tergerus. Dalam berbagai komentar di media massa, urusan video lebih banyak tentang moral, norma sosial seperti video yang akan merusak moral masyarakat. Video lebih banyak diperdebatkan dalam konteks pelarangan dan ketakutan-ketakutan.
Namun, bagaimana membaca perkembangan dunia kesenian (seni rupa) dengan kehadiran televisi (video) ini? Selama lebih dari 25 lima tahun video hadir di Indonesia, hampir tidak pernah saya menemukan seniman Tanah Air yang menggunakan medium ini sebagai media ucap seni rupa. Berbeda dengan di Barat, kehadiran televisi dengan teknologi videonya memicu perkembangan baru dalam seni rupa di sana. Gerakan pop art, fluxus, performance art, dan video art berkembang sangat pesat seiring dengan mulai mendominasinya media massa pada saat itu (1950-1960an) dan salah satunya televisi.
Ruangrupa menemukan dua seniman periode 1990-an yang mulai membuat karya video, yaitu Heri Dono dengan karya Hoping to Hear from You Soon (1992), yang memakai medium video sebagai bagian dari seni rupa instalasinya. Kemudian Krisna Murti dengan karya 12 Jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai (1993), yang juga menjadikan video sebagai bagian dari karya instalasinya. Krisna Murti membenamkan beberapa monitor yang memuat video rekaman tentang penari tradisi, Agung Rai. Selain dua orang ini, sangat sulit menemukan seniman yang menggunakan medium video, baik sebagai bagian dari instalasi maupun karya utuh berupa video art (seni video)
Seni Video dan New Media Art di Indonesia
Pada 2006, Direktorat Kesenian Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menerbitkan buku Apresiasi Seni Media Baru yang melibatkan beberapa penulis dan pekerja aktif seni media (media art) dan seni media baru (new media art) di Indonesia. Dalam pengantar buku tersebut, Surya Yoga (Direktur Kesenian) mengatakan bahwa seni media dan seni media baru berbeda dari jenis seni pada umumnya yang menggabungkan daya kreatif dengan estetis, seni ini lebih banyak mengolah kreativitas dan kemampuan logika. Hal ini banyak ditemukan pada karya seniman muda ketika itu. Buku terbitan pemerintah ini merupakan satu-satunya buku yang merangkum pikiran beberapa penulis, kritikus, kurator, dan seniman tentang bagaimana perkembangan seni media dan seni media baru di Indonesia.
Tahun 1990-an merupakan periode yang sangat penting dalam perkembangan seni video, seni media, dan new media art di Indonesia. Forum-forum regional dan internasional yang melibatkan seniman, seperti Heri Dono dan Krisna Murti, dalam pertukaran seni memberikan kesegaran dalam wacana seni rupa kontemporer di Indonesia. Penggunaan teknologi media oleh para seniman Indonesia dapat dilihat dengan dimulainya penggunaan medium video. Namun hanya beberapa seniman yang benar-benar menggeluti teknologi media ini dalam karya-karya seni rupa, seperti Krisna Murti.
Setelah reformasi 1998 adalah momen penting dalam perkembangan penggunaan teknologi media di masyarakat. Terbukanya keran demokrasi memberi peluang kepada masyarakat untuk memproduksi informasi sendiri menggunakan video, internet, layanan pesan singkat di telepon genggam (SMS), video streaming, dan lain-lain. Keterbukaan juga memunculkan inisiatif kelompok-kelompok anak muda kreatif dalam merayakan fenomena medium ini, seperti gerakan komunitas film independen di berbagia kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. Komunitas film independen menjadi pendorong yang sangat signifikan bagi perkembangan penggunaan teknologi video oleh generasi muda. Jaringan komunitas ini menjadi bagian penting dalam perkembangan film pendek, seni video, dan new media art pada saat ini.
Beberapa generasi baru dalam perkembangan seni video dan new media art di Indonesia tersebut antara lain Jompet, Venza, Prila Tania, Tintin Wulia, Ade Darmawan, Hafiz, Reza Afisina, Indra Ameng, Irwan Ahmett, Wimo Bayang, Ariani Darmawan, Anggun Priambodo, Henry Foundation, Beni Wicaksono, Otty Widasari, Mahardika Yudha, Wok the Rock, Ari Dina Krestiawan, dan Bagasworo Aryaningtyas. Ada juga Ari Satria Darma, Muhammad Akbar, dan Maulana Adel Pasha yang mendapatkan grand prize dalam kompetisi ASEAN New Media Art Competition 2007. Maulana Adel Pasha dengan karya video Jalan Tak Ada Ujung memperoleh hadiah utama pada Indonesia Art Award 2008 yang diadakan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI)di Galeri Nasional Indonesia. Award YSRI, yang biasanya diberikan kepada seni lukis dan mix media, untuk pertama kalinya diberikan kepada sebuah karya video pada 2008.
Selain itu, munculnya kelompok-kelompok seniman (artist initiative) juga menjadi salah satu pendorong berkembangnya new media art dan seni video di Tanah Air. Pertemuan interdisiplin dalam kelompok-kelompok ini membangun kesegaran wacana dalam membaca persoalan-persoalan kekinian dalam seni rupa di Indonesia. Kelompok seperti Ruangrupa, Mess 56, Bandung Center for New Media Art dan Commonroom, VideoLab, Rotten Apple, dan Forum Lenteng membuka peluang bagi kemungkinan penggunaan media baru dalam proyek-proyek seni yang mereka lakukan.
Dengan berbagai metode, kelompok-kelompok itu membangun jaringan dan program berbasis proyek seni yang bukan hanya memproduksi “barang” seni, melainkan juga memproduksi wacana dalam presentasi-presentasi yang mereka lakukan. Hal ini terlihat jelas pada kelompok seperti Ruangrupa, Commonroom, dan Forum Lenteng yang melakukan riset-riset kebudayaan dengan menggunakan metode seni dan perangkat ilmu sosial lainnya.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: